
Klub favoritku Fiorentina. Faktor Batistuta yang jadi sebab, walau sekarang sang maestro dah ga maen. Dulu waktu Bati masih aktif maen di Fiorentina, klo pas weekend ada siaran langsung pertandingan Fiorentina, yang aku tunggu2 ya aksinya si doi.
Kehebatan Batigol terlihat dari torehan golnya bersama La Viola Fiorentina. Aku masih inget komentar Trapattoni, mantan pelatih timnas Itali, mengenai pemain Argentina ini: beri dia bola setengah matang, dia akan menjadikannya sebuah gol yang indah (gile, indah banget koment-nya, sampe aku inget terus..)
Loyalitas Bati, dibarengi dengan kondisi lone star (di Fiorentina cuma dia yang pemain bintang), susah ditiru. Waktu Fiorentina kena degradasi ke seri B, Bati tetap ga pindah ke tim seri A lain sampe Fiorentina dia bawa lagi ke seri A.
Namun kecintaan, loyalitas, dan totalitas striker ini ke Fiorentina tidak pernah membuahkan scudetto (juara liga). Di situlah cerita sedihnya. Bahkan si Bati ini pernah sampe menitikkan air mata waktu diwawancara pas lagi latihan. Pertanyaan wartawan waktu itu: apakah anda akan mempertimbangkan untuk pindah ke klub yang lebih besar untuk merasakan scudeto? Batistuta ga berusaha njawab & hanya menundukkan muka. Sang pemilik klub waktu itu,Cechi Gori, yang lagi di dekat dia, berusaha menetralisir suasana dengan mengatakan klo Batistuta adalah pemain besar yang bisa membawa Fiorentina menuju juara.
(Satu musim berikutnya, Bati pindah ke AS Roma dan dapet scudetto.. Pernah waktu Bati masih di Fiorentina sebelum mo pindah ke AS Roma, waktu maen pertandingan seri A yang dah ga menentukan, Bati nyetak gol ke gawang lawan terus dia meluk jaring gawang lawan sambil nangis. Mungkin karena dia tau itu akan jadi gol terakhirnya buat klub yang sangat dia sayangi namun tidak memberi apa yang dikejarnya selama ini: gelar juara)